BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Allah menciptakan manusia agar mereka menjadi kholifah di muka bumi,
mereka telah dibekali dengan apa saja yang telah dibutuhkan untuk kepentingan
kekhalifahan ini. Tampak jelas bahwa Allah telah memberi mereka ilmu sebagai
kepentingan utama untuk semua itu, sebagaimana bekal yang mula-mula Allah
berikan kepada Nabi Adam a.s., yaitu ilmu.
“Allah telah mengajarkan Adam tentang
nama-nama (karakteristik) semua yang ada.”(Al –
Baqoroh: 31)[1]
Ayat Al - Qu’ran yang pertama kali diturunkan
juga menganjurkan manusia supaya mencari ilmu. Allah SWT. berfirman,
“Bacalah (ya Muhammad) dengan
menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan kalam”. (Al – ‘Alaq: 1-4)[2]
Ayat di atas merupakan sebuah konsep
dasar pendidikan yang jauh sebelumnya telah digariskan oleh Allah secara
tersurat. Hal tersebut merupakan gambaran tentang pola-pola pembelajaran secara
tekhnis seperti: membaca, menulis, menghafal, dan yang jelas ikhtiar sebagai
manifestasi usaha manusia sebagai makhluk yang lemah di hadapan Tuhan.
Sehingga tidaklah keliru jika dinyatakan
bahwa Al-Qur’an adalah kitab pendidikan. Hampir semua unsur yang berkaitan
dengan kependidikan disinggung secara tersurat atau tersirat oleh Al-Qur’an.
Rosul Saw. Yang menerima dan bertugas untuk menyampaikan dan mengajarkannya,
menamai dirinya “guru”. “bu’itstu mu’allimin,” demikian sabda beliau.
Dalam rangka suksesnya pendidikan, kitab suci Al Qur’an menguraikan banyak hal,
antara lain pengalaman para nabi, rosul, dan mereka yang memperoleh hikmah dari
Allah Swt. salah seorang dari yang memperoleh hikmah itu adalah Luqman a.s.
(baca QS Lukman [31]: 12)[3]
Pada dasarnya pendidikan adalah suatu
kebutuhan yang sangat fundamental dalam pengembangan segala aspek kehidupan.
Dalam tinjauan filosofis pendidikan adalah hak asasi manusia. Pendidikan
bersifat terbuka, demokratis, tidak diskriminatif, dan menjangkau semua warga
negara tanpa terkecuali.[4]
dalam konteks pendidikan untuk semua anak, yang mengalami kelainan fisik,
intelektual, sosial – emosional, gangguan perseptual, gangguan motorik, atau
anak berkebutuhan khusus (ABK), merupakan warga negara yang memiliki hak yang
sama untuk menikmati pendidikan seperti warga negara yang lain. Untuk itu
pemikiran dan realisasi ke arah upaya memenuhi kebutuhan pendidikan bagi mereka
harus terus dilakukan. [5]
Pendidikan merupakan sebuah rangkaian
sistem yang di dalamnya terdiri dari beberapa subsistem, diantaranya:
kurikukulum, menejemen pendidikan, keadministrasian, tenaga kependidikan,
termasuk strategi pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar, guru harus
memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena
pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu
ialah harus menguasai tehnik-tehik penyajian atau biasanya disebut sebagai metode
mengajar[6]. Dalam tinjauan di lapangan khususnya di
lembaga pendidikan formal, tidak tertutup kemungkinan nantinya akan ditemui
sebuah gejala mengenai kesulitan belajar yang dialami oleh beberapa
siswa. Memang hal ini dipandang suatu hal yang wajar dan manusiawi sebagaimana
dialami Nabi Muhammad Saw. sendiri ketika dalam menerima wahyu pertama, beliau
tidak langsung mengerti dan memahami penyampaian dari malaikat jibril, namun
beliau masih melalui tuntunan dan pendidikan dengan cara seksama,
kendati beliau tergolong bangsa “umm” (buta huruf).
Menurut Muhibbin Syah kesulitan belajar
yang dialami oleh siswa pada umumnya berorientasi pada faktor intern, yakni:
kesulitan yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik.
Sedangkan faktor eksternal adalah faktor kesulitan belajar yang meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan
sekitar (keluarga, masyarakat/kampung, sekolah) yang tidak mendukung aktifitas
belajar.
Selain faktor faktor-faktor yang
bersifat umum diatas ada pula
faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa,
sebagaimana dikutip oleh Muhibbin Syah dari Reber mengenai faktor yang dipandang
khusus, ialah sindrom psikologis berupa learning disablity (ketidakmampuan belajar). Sindrom
(syndrom) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya
keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar itu.
Adapun gejala yang sering ditemui
dilapangan, diantaranya: disleksia (ketidak mampuan belajar membaca), disgrafia
(ketidak mampuan belajar menulis), diskalkulia (ketidakmampuan belajar
matematika), disfasia (ketidakmampuan belajar berbahasa) [7]
Dari beberapa paparan di atas dapat
diketahui bahwa anak berkesulitan belajar yang dikaitkan dengan proses belajar
mengajar di suatu lembaga pendidikan, adalah mereka yang memperoleh prestasi
belajar jauh di bawah potensi yang dimilikinya. Potensi umumnya diukur
dengan tes intelegensi, biasanya menggunakan WISC – R (Wechlser Intellegence
Scale for Children – Rivized). Prestasi belajar biasanya diukur
dengan tes prestasi belajar. sehingga kesulitan belajar tidak bisa disamakan
dengan tuna grahita (retardasi mental), gangguan emosional, gangguan
pendengaran, gangguan penglihatan atau kemiskinan budaya dan sosial. Sehingga
pengertian kesulitan belajar harus disebabakan oleh adanya gangguan
fungsi neurologis.
Namun di Indonesia masih belum ada definisi
yang baku tentang kesulitan belajar. Para guru umumnya memandang semua siswa
yang memperoleh prestasi belajar rendah disebut siswa berkesulitan belajar.
Fenomena mengenai kesulitan belajar disinyalir
juga terkait dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini yang bisa
dikatakan dalam masa-masa kritis. Berdasarkan catatan Human Development Report
tahun 2003 dalam versi UNDP peringkat
HDI ( Human Development Index) berdasarkan sumber daya manusia dan
pendidikan, Indonesia berada di urutan ke 112, itupun masih dibawah Vietnam
(111), Filipina (85), Thailand (74), Malaysia (58), Brunai Darussalam (31),
Korea Selatan (30), dan Singapura (28)[8].
Dengan adanya kondisi semacam ini perlu disadari bersama bahwa betapa rendahnya
kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia saat ini, yang hanya di bawah
negara yang baru saja lepas dari cengkraman si adi daya.
Disamping itu, peringkat daya saing SDM
Indonesia juga kian merosot. Jika tahun 1997 World Competitiveness Yearbook
menempatkan Indonesia pada urutan ke-39, maka menjelang akhir abad ke-20 posisi
Indonesia berada di urutan ke-46 dari 47 negara. Sementara dalam hal penyediaan
tenaga insinyur, survei yang dilakukan Institute For Management Development
menempatkan Indonesia di posisi ke-44 dari 46 negara. Bahkan menurut catatan
Ace Suryadi, pengamat pendidikan dan pengembangan SDM yang juga Balitbang
Depdiknas, dalam hal kerja sama tekhnologi antar industri serta penelitian
antar industri dan perguruan tinggi, Indonesia malah menjadi juru kunci.
“Rendahnya indeks Indonesia dalam kualitas
SDM tersebut sebaiknya tidak dilihat secara terpisah-pisah, tetapi berkaitan
dengan suatu benag merah, yaitu rendahnya kualitas kualitas SDM Indonesia di
tengah-tengah persaingan dunia yang semakin ketat. Kualitas SDM itu diakui atau
tidak, memiliki kaitan erat dengan mutu pendidikan yang selama ini telah
menjadi wacana umum”, kata Ace yang meraih PhD dalam bidang ekonomi pendidikan
State University of New York at Albany (AS) saat ini.[9]
Apabila
dilihat dari faktor apa yang menyebabkan kondisi semacam ini, tentu saja
menyangkut masalah sistem pelaksanaan pembelajaran. Peran lembaga pendidikan
dalam konteks ini sangat menentukan kualitas SDM bangsa Indonesia. Maka
berangkat dari hal tersebut, saat ini pemerintah mulai mengembangkan sistem
pendidikan yang dipandang mampu mengeksplorasi potensi peserta didik
berdasarkan kemampuan dasarnya yang di kemas dalam bentuk Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK).
SDNU Bagorejo II Gumukmas Jember adalah salah
lembaga pendidikan dasar yang mulai mengembangkan sistem pendidikan ini. Saat
ini baru di aplikasikan di kelas I dan IV. Kini lembaga ini sedang menjalani
terapi pembelajaran. Dalam artian dalam kurun waktu 2 tahun lembaga ini yang
notabenenya sebagai SD swasta unggulan se-kecamatan Gumukmas mengalami
penurunan kualitas, setelah sekian lama selalu sejajar prestasinya dengan SD
Negri favorit. Para guru saat ini berupaya memulihkan kondisi ke arah yang
lebih baik, salah satu strategi yang pertama melalui diagnosis kesulitan
belajar dan bagaimana strategi menaggulanginya.
Penulis sangat tertarik dengan fenomena
tersebut, karena sangat sesuai dan ada korelasi dengan disiplin ilmu yang
ditekuni di perguruan tinggi, yakni menyangkut ranah pendidikan dan psikologi.
Maka dari itu penulis mengambil judul yang dianggap representatif pada kondisi
saat ini yakni: STRATEGI MENGATASI
KESULITAN BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR NAHDLATUL ULAMA’ BAGOREJO II GUMUKMAS JEMBER
B. Alasan Pemilihan Judul
Dalam pemilihan judul Strategi Mengatasi
Kesulitan Belajar Siswa Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama’ Bagorejo II Gumukmas Jember,
ada beberapa hal yang menjadi alasan yang perlu dikemukakan dalam penulisan
ini, antara lain:
1.
Alasan Subyektif
a.
Adanya kesesuaian dan korelasi
antara materi penelitian dengan disiplin ilmu yang penulis peroleh di jurusan
tarbiyah program studi PAI STAIFAS Kencong Jember;
b.
Tersedianya waktu, tenaga, biaya
dan literatur yang cukup mendukung dalam
penelitian sesuai dengan terget yang akan dicapai.
c.
Optimisme atas kemampuan peneliti
untuk mengkaji masalah ini, baik dari segi pengetahuan dan kecakapan;
d.
Adanya dukungan dan kesediaan
dosen pembimbing untuk membantu dan memberi pengarahan dalam menyelesaikan
penulisan ini.
2.
Alasan Obyektif
a.
Strategi mengatasi kesulitan
belajar siswa merupakan komponen dari sistem pembelajaran yang dirasa sangat
perlu untuk di kaji dan direkonstruksi, mengingat kondisi pendidikan regional
bangsa saat ini yang begitu memprihatinkan khususnya di wilayah pedesaan;
b.
Belum ada peneliti yang mengkaji
permasalahan tentang bagaimana strategi mengatasi kesulitan belajar siswa,
khususnya di Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama’ Bagorejo II;
c.
Mengingat betapa pentingnya
menelusuri gejala psikis siswa dari efek lingkungannya. Yang menyebabkan kecenderungan siswa untuk berperilaku
menyimpang dan tekanan mental atas sebab-sebab tertentu yang berdampak pada
kesulitan dalam belajar.
C. Penegasan Judul
Skripsi ini berjudul: “Strategi
Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa SDNU Bagorejo II Gumukmas Jember”.
Agar skripsi ini mudah dipahami lebih
mendalam dan untuk menghindari terjadinya salah penafsiran judul diatas, maka
perlu adanya penegasan judul, yakni:
- Strategi
Dalam kamus besar bahasa Indonesia
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mendefinisikan strategi adalah: ”Rencana
yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus”.[10]
- Mengatasi Kesulitan Belajar
Mengatasi kesulitan belajar terdiri dari
beberapa kata, yaitu: mengatasi, kesulitan, belajar. Dalam kamus besar
bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa kata mengatasi berasal dari kata
dasar atas yang mendapat awalan me- dan akhiran -i, sehingga mempunyai
arti menguasai; melebihi dalam hal; mengalahkan; menanggulangi[11]
Sedangkan kesulitan belajar adalah: sulit
– kesulitan berarti sukar, susah (diselesaikan, dikerjakan dsb.)[12];
ajar – belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian; berlatih;
berubah tingkah laku tanggapan yang di sebabkan oleh pengalaman.[13]
Jadi kesulitan belajar berarti susah, sulit dalam upaya memperoleh kepandaian
(kecakapan), berlatih, dan upaya dalam merubah tingkah laku atas tanggapan atau
efek yang disebabkan oleh pengalaman.
Kesulitan belajar merupakan terjemahan
dari istilah Bahasa Inggris learning disability. Terjemahan tersebut
sesungguhnya kurang tepat karena learning artinya belajar dan disability
artinya ketidakmampuan. Sehingga terjemahan yang benar seharusnya adalah ketidakmampuan
belajar[14]
Sedangkan secara terminologis menurut
Mulyono Abdurrahman yang di kutip dari Takeshi Fujishima et. al.:
kesulitan belajar “merupakan suatu konsep multidisipliner yang digunakan di
lapangan ilmu pendidikan, psikologi, maupun ilmu kedokteran”. Pada tahun 1963
Samuel A. Kirk. Untuk pertama kali menyarankan penyatuan nama-nama gangguan
anak seperti disfungsi otak minimal (minimal brain dysfunction),
gangguan neurologis (neurological disorders), disleksia (dysleksia),
dan afasia perkembangan (developmental aphasia) menjadi satu nama,
kesulitan belajar (learning disabilities). Konsep tersebut telah
diadopsi secara luas dan pendekatan edukatif terhadap kesulitan belajar telah
berkembang secara cepat, terutama di negara-negara yang sudah maju.[15]
Menurut definisi dari kesulitan belajar,
pertama kali di kemukakan oleh The United States Office of Education (USOE)
pada tahun 1977 yang dikenal dengan law (PL) 94 – 142, yang hampir identik
dengan definisi yang dikemukakan oleh The National Advisory on Handicapped Children
pada tahun 1967. devinisi tersebut seperti dikutip oleh Hallahan, Kauffman, dan
Lloyd seperti berikut:
Kesulitan belajar secara khusus adalah suatu gangguan
dalam satu atau lebih dari proses
psikologis dasar yang mecakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau
tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk tulisan
mendengarkan, berfikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung.
Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan perseptual, luka
pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak mencakup
anak-anak yang memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari
adanya hambatan dalam dalam penglihatan pendengaran, atau motorik, hambatan
karena tuna grahita,karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan
lingkungan, budaya, atau ekonomi.[16]
Walaupun belum ada definisi yang baku
mengenai anak atau siswa berkesulitan belajar di Indonesia, namun dengan
mengacu pada definisi yang telah diuraikan sebelumnya, maka menurut Munawir Yusuf
anak berkesulitan belajar dapat di definisikan sebagai berikut:
Anak atau siswa berkesulitan belajar adalah anak atau
siswa yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus
maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses
psikologis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga prestasi belajar anak
tersebut rendah dan anak tersebut beresiko tinggi tinggal di kelas.[17]
Dari beberapa definisi di atas dapat
penulis garis bawahi bahwa arti dari strategi mengatasi kesulitan belajar
adalah rencana yang cermat untuk mencapai sasaran khusus dalam menanggulangi
kesukaran memperoleh kepandaian (kecakapan), dan upaya dalam merubah tingkah
laku atas tanggapan atau efek yang disebabkan oleh pengalaman yang dialami oleh
siswa atau peserta didik. Dalam hal ini yang menjadi obyek penelitian adalah
siswa beserta pendidik dalam proses belajar mengajar di SDNU Bagorejo II
Kecamatan Gumukmas Jember.
D. Perumusan Masalah
Menurut S. Margono: “Masalah ialah
kesenjangan antara sesuatu yang seharusnya ada (das Sollen) dengan
kenyataan yang ada (das sein)”.[18]
Sedangkan menurut Nana Sudjana dan
Ibrahim: “Masalah merupakan persoalan yang menuntut jawaban dan pemecahan yang
paling mendekati kebenaran, setidak-tidaknya ada alasan rasional mengapa jawaban
itu yang menjadi pilihan”.[19]
Berangkat dari pendapat di atas maka,
permasalahan yang terkait dengan judul dapat dirumuskan sebagaimana berikut:
a.
Bagaimana strategi mengatasi
kesulitan belajar siswa yang bersifat umum di Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama’
Bagorejo II?
b.
Bagaimana strategi mengatasi
kesulitan belajar siswa yang bersifat khusus di Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama’
Bagorejo II?
E. Tujuan Penelitian
Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa:”Suatu
research khususnya dalam ilmu pengetahuan empirik pada umumnya bertujuan untuk
menemukan, mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan”[20]
Sedangkan menurut S. Margono: “Tujuan
penelitian secara umum adalah untuk meningkatkan daya imajinasi mengenai
masalah-masalah pendidikan. Kemudian meningkatnya daya nalar untuk mencari
jawaban permasalahan itu melalui penelitian”.[21]
Dalam hal ini penulis dalam melakukan
penelitian bersendi atas dua tujuan, yaitu:
a.
Untuk mengetahui bagaimana
strategi mengatasi kesulitan belajar siswa yang bersifat umum di Sekolah Dasar
Nahdlatul Ulama’ Bagorejo II
b.
Untuk mengetahui bagaimana
strategi mengatasi kesulitan belajar siswa yang bersifat khusus di Sekolah
Dasar Nahdlatul Ulama’ Bagorejo II
F. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan
dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1.
Bagi Penulis
a.
Sebagai langkah awal dalam
mengembangkan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi selama ini;
b.
Sebagai modul dalam mengevaluasi
kemampuan diri dalam menganalisa perkembangan pendidikan dan dinamikanya serta
bagaimana tehnik pemecahannya;
c.
Sebagai wahana belajar memahami
gejala psikis anak dan kebutuhan-kebutuhannya pada masa belajar/sekolah dan
bagaimana metode dalam pengambilan sikap yang tepat.
2.
Bagi Lembaga
a.
Dengan adanya penelitian ini
diharapkan bisa memberikan informasi mengenai perkembangan pendidikan serta
dinamika yang muncul pasca transformasi sistem pendidikan nasional;
b.
Dengan adanya penelitain ini
diharapkan bisa dijadikan informasi tentang sejauh mana kemampuan mahasiswa
STAIFAS dalam menganalisa permasalahan yang ada di lembaga pendidikan.
3.
Bagi Masyarakat
a.
Sebagai gambaran pengetahuan
khusus akan pentingnya pendidikan anak masa sekolah beserta penanganan
kesulitan belajarnya;
b.
Dengan adanya penelitian mengenai
strategi mengatasi kesulitan belajar siswa, diharapkan bagi masyarakat,
khususnya para orang tua dan tenaga pendidik untuk lebih meningkatkan pemahaman
dan metode pengambilan sikap yang tepat
atas gejala psikis anak di masa belajar/sekolah.
G. Asumsi Keterbatasan
Penelitian ini merupakan bentuk
penulisan karya ilmiah dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang senantiasa
mengedepankan unsur fenomenologis dan data yang obyektif – empiris, sehingga
dalam hal ini sangat ditekankan bagi seorang peneliti untuk terjun di lapangan
dan berhadapan secara langsung pada obyek yang diteliti (face to face).
Penulis berasumsi bahwa informan telah
banyak memberikan informasi yang cukup obyektif sesuai dengan fakta yang ada
dilapangan. Karena hampir semua informan tersebut merupakan subyek yang
dianggap berkompeten dan relevan di bidangnya. Memang dalam penelitian
kualitatif dibutuhkan waktu yang relatif panjang, hal ini bertujuan untuk
mencari data yang valid dan sesuai dengan realitas yang ada di lapangan.
Skripsi ini mengangkat sebuah judul
“Strategi Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa di SDNU Bagorejo II” yang
berorientasi pada bentuk dan tekhnis
belajar siswa dan kinerja guru dalam mengajar. penelitian ini yang sesungguhnya
memerlukan waktu yang cukup panjang dalam
pengumpulan data-data yang valid maka diperlukan berbagai prosedur dan
metode seperti: observasi, interviu, dokumenter, dan kepustakaan. Dan
kesemuanya itu mengharuskan seorang peneliti untuk terjun secara langsung ke
lapangan. Maka dengan waktu yang relatif singkat ini bisa dimungkinkan akan
terjadi kekurangakuratan data dan informasi yang dibutuhkan dalam mengkonstuksi
sebuah laporan penelitian ini.
H. Metodologi dan Prosedur Penelitian
Dalam sebuah penelitian metode adalah
suatu hal yang sangat penting, karena dengan metode yang baik dan benar akan
memungkinkan tercapainya suatu tujuan penelitian.
Di samping itu, juga merupakan sesuatu
yang menerangkan cara-cara untuk mengadakan penelitian sebagaimana yang
dikemukakan oleh Sutrisno Hadi bahwa: “Metode penelitian adalah suatu usaha
untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dan
dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah”. [22]
1.
Penentuan Responden
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia
responden adalah: penjawab (atas pertanyaan yang di ajukan untuk kepentingan
penelitian)[23].
Untuk menentukan responden digunakan tehnik sampel purposif (purposive
sampling).
Menurut Sutrisno Hadi: tekhnik purposif sampling
adalah pemilihan sekelompok subyek yang didasarkan atas ciri-ciri atau
sifat-sifat tertentu yang dianggap mempunyai sangkut paut yang erat dan
ciri-ciri atau sifat-sifat tersebut sudah diketahui sebelumnya [24]
2.
Metode Pengumpulan Data
Untuk mempermudah dalam pengumpulan
data, maka dalam penelitian ini menggunakan tehnik sebagai berikut:
a.
Interview
Interview adalah suatu instrumen
pengumpul data atau informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara
lisan untuk dijawab secara lisan pula.[25]
Menurut Alport sebagaiman dikutip oleh
Sutrisno Hadi:
Adalah suatu proses tanya jawab lesan, dalam mana dua
orang atau lebih berhadap hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka
yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri suaranya, tampaknya merupakan
alat pengumpulan informasi yang lagsung tentang beberapa jenis data sosial,
baik yang terpendam (latent) maupun yang memanifes.[26]
Berdasarkan pendapat di atas, untuk
memperoleh informasi yang tepat dan obyektif, setiap intervieweer harus mampu
menciptakan hubungan yang baik dengan interviewee atau responden. Sehingga
nantinya akan didapat sebuah informasi yang valid dan reliabel sesuai dengan
realitas yang ada di lapangan tanpa adanya manipulasi data (data yang
direkayasa) dari interviwee.
Melihat sistematika penelitian yang
mengangkat prosedur pembelajaran di kelas, peneliti dituntut untuk terjun ke
lapangan. Maka dari itu untuk mengetahui latar belakang obyek yang berisi
tentang sejarah serta sistem pembelajaran yang diterapkan dan untuk mengetahui
sejauh mana kinerja guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya,
diperlukanlah metode interview.
Metode wawancara dipandang sebagai
metode yang dapat menghasilkan data
faktual, karena bersumber dari informan yang dianggap mengetahui betul situasi
dan kondisi obyek, dan bisa jadi sebagai pelaku sejarah perkembangan obyek atau
lembaga yang diteliti. Sehingga nantinya bisa dijadikan sebagai acuan dalam
pengembangan penelitian.
Adapun sumber informasi atau informan
yang diwawancarai sebagai berikut:
1)
kepala sekolah
2)
dewan guru
3)
siswa
b.
Observasi
Menurut Sutrisno Hadi “observasi adalah
pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomen-fenomen yang diselidiki”[27]
Sedangkan menurut Nana Sudjana dan
Ibrahim: “observasi diartikan sebagai alat pengumpul data banyak digunakan
untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan
yang dapat diamati baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi
buatan”[28]
Dilihat dari latar belakang obyek
penelitian yang menyangkut mekanisme
pembelajaran di dalam kelas serta kinerja dari pendidik maka dalam penelitian
ini yang paling tepat menggunakan jenis observasi langsung – partisipatif.
Yakni penelitian yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam
situasi yang sebenarnya dan memperlihatkan diri atau ikut serta dalam kegiatan
yang dilaksanakan di lapangan (object observered)[29]
Tehnik observasi merupakan bagian dari
karakteristik penelitian kualitatif yang bertujuan mengangkat masalah-masalah
fenomenologis di lapangan. Disini seorang peneliti dituntut untuk mengikuti
secara seksama alur dari proses pembelajaran di kelas, peneliti mengamati dan
menyelidiki gejala mengenai kesulitan belajar siswa di kelas dan bagaimana
tehnik dan strategi seorang guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut.
Berangkat dari sinilah peneliti bisa
menemukan data-data riil (empirik) yang kemudian akan didialogkan dengan
data-data teoritik, sehingga akan memunculkan sebuah konklusi-konklusi. Dan
dari proses sintesis itulah nantinya bisa dijadikan sebuah penemuan ilmiah yang
akan digeneralisasikan.
c.
Tekhnik Dokumenter
Menurut S. Margono
tekhnik dokumenter adalah: “cara mengumpulkan data melaui peninggalan tertulis
seperti arsip-arsip, dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, toeri, dalil
atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian”. [30]
Berangkat dari berbagai pandangan
teoritik diatas, maka metodologi
pengumpulan data dalam penelitian ini juga memanfaatkan dokumen atau
sejenisnya yang berada pada obyek yang terkait dengan penelitian. Dan hal ini
dipandang suatu metode yang sangat menunjang dalam menemukan data-data yang
valid dan reliabel.
3.
Tehnik Analisa Data
Dalam penelitian ini digunakan pendekatan
kualitatif dan tekhnik analisa data
reflektif. Karena dengan tekhnik ini bisa didapat data-data dari
sumber yang lebih terinci dan terpadu (konprehensif) serta mencapai taraf kevalidan dan reliabelitas.
Tekhnik ini diperkenalkan pertama kali
oleh John Dewey yang merupakan cara modern untuk memperoleh pengetahuan yang
tidak lain adalah pengkombinasian jitu dari cara berfikir deduktif dan
induktif, atau dengan mendialogkan data teoritik dengan data empirik secara
bolak-balik dan kritis.[31]
Adapun pengertian dari cara berfikir
deduktif adalah apa saja yang dipandang benar pada semua peristiwa dalam suatu
kelas atau jenis, berlaku pula sebagai hal yang benar pada semua peristiwa yang
termasuk dalam kelas atau jenis itu. Alat untuk mencapai pengetahuan dengan
jalan deduksi disebut silogisme.
Sedangkan cara berfikir induktif
bertujuan untuk membentuk membentuk pengetahuan umum yang kemudian akan
dijadikan dasar deduksi itu, dijadikan premis mayor daripada
silogisme-silogisme. Berfikir deduktif berangkat dari fakta-fakta yang khusus,
peristiwa-peristiwa yang konkret, kemudian dari fakta-fakta atau peristiwa yang
khusus konkret itu ditarik generalisasi-generalisasi yang mempunyai sifat umum.[32]
Adapun sumber data dalam penelitian
ini antara lain:
a.
Informan, meliputi:
1)
kepala sekolah;
2)
dewan guru, dan
3)
siswa
b.
Dokumenter
c.
Kepustakaan
I. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam skripsi ini
terdiri atas empat bab, adapun urutannya sebagai berikut:
Bab I berisi pendahuluan yang merupakan gambaran umum
mengenai penelitian yang dilakukan. Membaca bab ini, secara garis besar orang
dapat melihat hal-hal yang tercakup dalam skripsi.[33]Dalam
bab ini dijabarkan menjadi bebrapa bagian-bagian dengan penjelasannya secara
singkat seperti latar belakang yang di dalamnya berisi uraian secara singkat
latar belakang melakukan skripsi, selanjutnya alasan pemilihan judul, penegasan
judul secara singkat dan berangkat dari hal itu kemudian dibuatlah sebuah
perumusan masalah, yang akhirnya memunculkan beberapa tujuan penelitian, manfaat
penelitian baik manfaat bagi peneliti, lembaga maupun bagi masyarakat.
Diperlukan pula asumsi keterbatasan yang di dalamnya mengemukakan hal-hal yang
tidak dapat dilakukan pembuktiannya oleh peneliti. Dan hal ini didorong atas
keterbatasan dana, waktu, daerah, hal-hal yang bersangkutan dengan adat,
kepercayaan dan lain sebagainya. selanjutnya adalah metode dan prosedur
penelitan yang di dalamnya menguraikan secara garis besar metode dan prosedur
yang digunakan dalam penelitian. Dan terakhir adalah sistematika pembahasan.
Bab II adalah tinjauan teoritik, pada
bab ini dimaksudkan untuk mengetengahkan kerangka acuan teori yang di
pergunakan sebagai landasan melakukan penelitian. Tinjauan teoritik ini
diketengahkan berdasarkan ringkasan dan tinjauan teori-teori yang erat
hubungannya dengan pokok bahasan penelitian ini yang meliputi bagaimana
strategi mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa, baik kesulitan belajar
yang bersifat umum maupun khusus. Mengingat kerangka teoritik merupakan titik
tolak dari varibel, sedangkan dalam skripsi ini hanya terdapat satu variabel,
maka kerangka teoritik ini disesuikan dengan kerangka rumusan masalah yakni
bagaimana strategi mengatasi kesulitan belajar siswa yang bersifat umum dan
strategi mengatasi kesulitan belajar siswa yang bersifat khusus.
Bab III berisi tentang hasil penelitian
dan pembahasan, dalam bab ini mengemukakan secara rinci bukti-bukti yang
diperoleh dan merupakan hasil penemuan penelitian, sehingga yang penting
dikemukakan adalah: latar belakang obyek penelitian, penyajian data, dan
analisa data hasil penelitian.
Bab IV kesimpulan dan saran-saran,
merupakan bab terakhir dalam penulisan skripsi dan terdiri dari dua sub bab,
yaitu kesimpulan dan saran-saran. Hal ini dimaksudkan agar pembaca dapat
memperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai penelitian yang yang dilakukan. Saran-saran disajikan sebagai
masukan atau bahan telaah ulang bagi obyek penelitian serta pihak yang terkait
dengan penelitian ini.
[1] Mahmud Yunus, Tarjamah Al -Qur’anul Karim, Bandung: PT. Al
Ma’arif, 1983. hlm 6
[2] Ibid, hlm. 537
[3] M. Quraisy Sihab, Secercah Cahaya Ilahi, Jakarta, Mizan, 2001.
hlm. 67
[4] Undang – undang RI No 20, Sisdiknas, Bandung, Fokus Media,
2003. hlm.7
[5] Munawir Yusuf dkk., Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar,
Solo: PT. tiga serangkai, 2003. hlm.3
[6] Roestiyah N.K., Strategi
Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2001. hlm. 1
[7] Muhibbin Syah, Psikologi
Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1995. hlm. 174
[8] Nurhadi dan Agus Gerard Senduk, Pembelajaran kontekstual,
Jakarta: UNM, 2003, hlm. 4
[9] Nurhan, Kenedi, Pendidikan dan Investasi Masa Depan, 2001(on
line) (www.kompas.com.pend29. html., diakses 15 Maret 2002)
[10] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka, 2002. hlm. 1092
[11] Ibid, hlm. 74
[12] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op-cit, hlm.1100
[13] Ibid,.hlm. 12
[14] Moelyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulutan Belajar,
Jakarta: Rineka Cipta, 2003. hlm. 6
[15] Moelyono Abdurrahman, Op-Cit. hlm. 6
[16] Ibid, hlm. 7
[18] Margono, Metodologi Peneleitian Pendidikan, Semarang: Rineka
Cipta, 2003. hlm.54
[19] Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidkan,
Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2001. hlm. 1
[20] Sutrisno Hadi, Metodologi Research,(Jilid I), Yogyakarta: Andi
Offset, 1994. hlm.3
[21] Margono, Op-Cit, hlm. 1
[22] Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Jilid 1)Yyogyakarta: Andi
Ofset 1994 hlm.
[23] Dep. P dan K, Op-Cit. Hlm.952
[24] Sutrisno Hadi, Op-Cit, hlm. 82
[25] S. Margono, Op-Cit. hlm. 165
[26] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Op-Cit, 2000. hlm. 63
[27] Ibid, hlm. 136
[28] Nana Sudjana dan Ibrahim, Op-Cit. Hlm. 136
[29] Ibid, hlm. 112
[30] S. Margono, Op-Cit, hlm. 181
[31] Tim Penyusun, Pedoman Karya Tulis Ilmiah, Kencong: STAIFAS,
2005. hlm. 24
[32] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Op-Cit, 2000. hlm.
[33] Tim Penyusun, Pedoman Karya Tulis Ilmiah, Kencong: STAIFAS,
2005. hlm. 32