Senin, 30 September 2013

SKRIPSI STRATEGI MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Allah menciptakan manusia agar mereka menjadi kholifah di muka bumi, mereka telah dibekali dengan apa saja yang telah dibutuhkan untuk kepentingan kekhalifahan ini. Tampak jelas bahwa Allah telah memberi mereka ilmu sebagai kepentingan utama untuk semua itu, sebagaimana bekal yang mula-mula Allah berikan kepada Nabi Adam a.s., yaitu ilmu.


“Allah telah mengajarkan Adam tentang nama-nama (karakteristik) semua yang ada.”(Al – Baqoroh: 31)[1]
Ayat Al - Qu’ran yang pertama kali diturunkan juga menganjurkan manusia supaya mencari ilmu. Allah SWT. berfirman,




“Bacalah (ya Muhammad) dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam”. (Al – ‘Alaq: 1-4)[2]
Ayat di atas merupakan sebuah konsep dasar pendidikan yang jauh sebelumnya telah digariskan oleh Allah secara tersurat. Hal tersebut merupakan gambaran tentang pola-pola pembelajaran secara tekhnis seperti: membaca, menulis, menghafal, dan yang jelas ikhtiar sebagai manifestasi usaha manusia sebagai makhluk yang lemah di hadapan Tuhan.
Sehingga tidaklah keliru jika dinyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab pendidikan. Hampir semua unsur yang berkaitan dengan kependidikan disinggung secara tersurat atau tersirat oleh Al-Qur’an. Rosul Saw. Yang menerima dan bertugas untuk menyampaikan dan mengajarkannya, menamai dirinya “guru”. “bu’itstu mu’allimin,” demikian sabda beliau. Dalam rangka suksesnya pendidikan, kitab suci Al Qur’an menguraikan banyak hal, antara lain pengalaman para nabi, rosul, dan mereka yang memperoleh hikmah dari Allah Swt. salah seorang dari yang memperoleh hikmah itu adalah Luqman a.s. (baca QS Lukman [31]: 12)[3]
Pada dasarnya pendidikan adalah suatu kebutuhan yang sangat fundamental dalam pengembangan segala aspek kehidupan. Dalam tinjauan filosofis pendidikan adalah hak asasi manusia. Pendidikan bersifat terbuka, demokratis, tidak diskriminatif, dan menjangkau semua warga negara tanpa terkecuali.[4] dalam konteks pendidikan untuk semua anak, yang mengalami kelainan fisik, intelektual, sosial – emosional, gangguan perseptual, gangguan motorik, atau anak berkebutuhan khusus (ABK), merupakan warga negara yang memiliki hak yang sama untuk menikmati pendidikan seperti warga negara yang lain. Untuk itu pemikiran dan realisasi ke arah upaya memenuhi kebutuhan pendidikan bagi mereka harus terus dilakukan. [5]
Pendidikan merupakan sebuah rangkaian sistem yang di dalamnya terdiri dari beberapa subsistem, diantaranya: kurikukulum, menejemen pendidikan, keadministrasian, tenaga kependidikan, termasuk strategi pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai tehnik-tehik penyajian atau biasanya disebut sebagai metode mengajar[6].  Dalam tinjauan di lapangan khususnya di lembaga pendidikan formal, tidak tertutup kemungkinan nantinya akan ditemui sebuah gejala mengenai kesulitan belajar yang dialami oleh beberapa siswa. Memang hal ini dipandang suatu hal yang wajar dan manusiawi sebagaimana dialami Nabi Muhammad Saw. sendiri ketika dalam menerima wahyu pertama, beliau tidak langsung mengerti dan memahami penyampaian dari malaikat jibril, namun beliau masih melalui tuntunan dan pendidikan dengan cara seksama, kendati beliau tergolong bangsa “umm” (buta huruf).
Menurut Muhibbin Syah kesulitan belajar yang dialami oleh siswa pada umumnya berorientasi pada faktor intern, yakni: kesulitan yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor kesulitan belajar   yang meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar (keluarga, masyarakat/kampung, sekolah) yang tidak mendukung aktifitas belajar.
Selain faktor faktor-faktor yang bersifat umum diatas ada pula  faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa, sebagaimana dikutip oleh Muhibbin Syah dari Reber mengenai faktor yang dipandang khusus, ialah sindrom psikologis berupa learning disablity  (ketidakmampuan belajar). Sindrom (syndrom) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar itu.
Adapun gejala yang sering ditemui dilapangan, diantaranya: disleksia (ketidak mampuan belajar membaca), disgrafia (ketidak mampuan belajar menulis), diskalkulia (ketidakmampuan belajar matematika), disfasia (ketidakmampuan belajar berbahasa) [7]
Dari beberapa paparan di atas dapat diketahui bahwa anak berkesulitan belajar yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar di suatu lembaga pendidikan, adalah mereka yang memperoleh prestasi belajar jauh di bawah potensi yang dimilikinya. Potensi umumnya diukur dengan tes intelegensi, biasanya menggunakan WISC – R (Wechlser Intellegence Scale for Children – Rivized). Prestasi belajar biasanya diukur dengan tes prestasi belajar. sehingga kesulitan belajar tidak bisa disamakan dengan tuna grahita (retardasi mental), gangguan emosional, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan atau kemiskinan budaya dan sosial. Sehingga pengertian kesulitan belajar harus disebabakan oleh adanya gangguan fungsi neurologis.
Namun di Indonesia masih belum ada definisi yang baku tentang kesulitan belajar. Para guru umumnya memandang semua siswa yang memperoleh prestasi belajar rendah disebut siswa berkesulitan belajar.
Fenomena mengenai kesulitan belajar disinyalir juga terkait dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini yang bisa dikatakan dalam masa-masa kritis. Berdasarkan catatan Human Development Report tahun 2003 dalam versi UNDP  peringkat HDI ( Human Development Index) berdasarkan sumber daya manusia dan pendidikan, Indonesia berada di urutan ke 112, itupun masih dibawah Vietnam (111), Filipina (85), Thailand (74), Malaysia (58), Brunai Darussalam (31), Korea Selatan (30), dan Singapura (28)[8]. Dengan adanya kondisi semacam ini perlu disadari bersama bahwa betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia saat ini, yang hanya di bawah negara yang baru saja lepas dari cengkraman si adi daya.
Disamping itu, peringkat daya saing SDM Indonesia juga kian merosot. Jika tahun 1997 World Competitiveness Yearbook menempatkan Indonesia pada urutan ke-39, maka menjelang akhir abad ke-20 posisi Indonesia berada di urutan ke-46 dari 47 negara. Sementara dalam hal penyediaan tenaga insinyur, survei yang dilakukan Institute For Management Development menempatkan Indonesia di posisi ke-44 dari 46 negara. Bahkan menurut catatan Ace Suryadi, pengamat pendidikan dan pengembangan SDM yang juga Balitbang Depdiknas, dalam hal kerja sama tekhnologi antar industri serta penelitian antar industri dan perguruan tinggi, Indonesia malah menjadi juru kunci.
“Rendahnya indeks Indonesia dalam kualitas SDM tersebut sebaiknya tidak dilihat secara terpisah-pisah, tetapi berkaitan dengan suatu benag merah, yaitu rendahnya kualitas kualitas SDM Indonesia di tengah-tengah persaingan dunia yang semakin ketat. Kualitas SDM itu diakui atau tidak, memiliki kaitan erat dengan mutu pendidikan yang selama ini telah menjadi wacana umum”, kata Ace yang meraih PhD dalam bidang ekonomi pendidikan State University of New York at Albany (AS) saat ini.[9]
      Apabila dilihat dari faktor apa yang menyebabkan kondisi semacam ini, tentu saja menyangkut masalah sistem pelaksanaan pembelajaran. Peran lembaga pendidikan dalam konteks ini sangat menentukan kualitas SDM bangsa Indonesia. Maka berangkat dari hal tersebut, saat ini pemerintah mulai mengembangkan sistem pendidikan yang dipandang mampu mengeksplorasi potensi peserta didik berdasarkan kemampuan dasarnya yang di kemas dalam bentuk Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
SDNU Bagorejo II Gumukmas Jember adalah salah lembaga pendidikan dasar yang mulai mengembangkan sistem pendidikan ini. Saat ini baru di aplikasikan di kelas I dan IV. Kini lembaga ini sedang menjalani terapi pembelajaran. Dalam artian dalam kurun waktu 2 tahun lembaga ini yang notabenenya sebagai SD swasta unggulan se-kecamatan Gumukmas mengalami penurunan kualitas, setelah sekian lama selalu sejajar prestasinya dengan SD Negri favorit. Para guru saat ini berupaya memulihkan kondisi ke arah yang lebih baik, salah satu strategi yang pertama melalui diagnosis kesulitan belajar dan bagaimana strategi menaggulanginya.
Penulis sangat tertarik dengan fenomena tersebut, karena sangat sesuai dan ada korelasi dengan disiplin ilmu yang ditekuni di perguruan tinggi, yakni menyangkut ranah pendidikan dan psikologi. Maka dari itu penulis mengambil judul yang dianggap representatif pada kondisi saat ini  yakni: STRATEGI MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR NAHDLATUL ULAMA’  BAGOREJO II GUMUKMAS JEMBER

B.     Alasan Pemilihan Judul

Dalam pemilihan judul Strategi Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama’ Bagorejo II Gumukmas Jember, ada beberapa hal yang menjadi alasan yang perlu dikemukakan dalam penulisan ini, antara lain:
1.      Alasan Subyektif
a.          Adanya kesesuaian dan korelasi antara materi penelitian dengan disiplin ilmu yang penulis peroleh di jurusan tarbiyah program studi PAI STAIFAS Kencong Jember;
b.         Tersedianya waktu, tenaga, biaya dan literatur  yang cukup mendukung dalam penelitian sesuai dengan terget yang akan dicapai.
c.          Optimisme atas kemampuan peneliti untuk mengkaji masalah ini, baik dari segi pengetahuan dan kecakapan;
d.         Adanya dukungan dan kesediaan dosen pembimbing untuk membantu dan memberi pengarahan dalam menyelesaikan penulisan ini.
2.      Alasan Obyektif
a.          Strategi mengatasi kesulitan belajar siswa merupakan komponen dari sistem pembelajaran yang dirasa sangat perlu untuk di kaji dan direkonstruksi, mengingat kondisi pendidikan regional bangsa saat ini yang begitu memprihatinkan khususnya di wilayah pedesaan;
b.         Belum ada peneliti yang mengkaji permasalahan tentang bagaimana strategi mengatasi kesulitan belajar siswa, khususnya di Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama’ Bagorejo II;
c.          Mengingat betapa pentingnya menelusuri gejala psikis siswa dari efek lingkungannya. Yang menyebabkan  kecenderungan siswa untuk berperilaku menyimpang dan tekanan mental atas sebab-sebab tertentu yang berdampak pada kesulitan dalam belajar.

C.    Penegasan Judul

Skripsi ini berjudul: “Strategi Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa SDNU Bagorejo II Gumukmas Jember”.
Agar skripsi ini mudah dipahami lebih mendalam dan untuk menghindari terjadinya salah penafsiran judul diatas, maka perlu adanya penegasan judul, yakni:
  1. Strategi
Dalam kamus besar bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mendefinisikan strategi adalah: ”Rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus”.[10]
  1. Mengatasi Kesulitan Belajar
Mengatasi kesulitan belajar terdiri dari beberapa kata, yaitu: mengatasi, kesulitan, belajar. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa kata mengatasi berasal dari kata dasar atas yang mendapat awalan me- dan akhiran -i, sehingga mempunyai arti menguasai; melebihi dalam hal; mengalahkan; menanggulangi[11]
Sedangkan kesulitan belajar adalah: sulit ­– kesulitan berarti sukar, susah (diselesaikan, dikerjakan dsb.)[12]; ajar – belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian; berlatih; berubah tingkah laku tanggapan yang di sebabkan oleh pengalaman.[13] Jadi kesulitan belajar berarti susah, sulit dalam upaya memperoleh kepandaian (kecakapan), berlatih, dan upaya dalam merubah tingkah laku atas tanggapan atau efek yang disebabkan oleh pengalaman.
Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah Bahasa Inggris learning disability. Terjemahan tersebut sesungguhnya kurang tepat karena learning artinya belajar dan disability artinya ketidakmampuan. Sehingga terjemahan yang benar seharusnya adalah ketidakmampuan belajar[14]
Sedangkan secara terminologis menurut Mulyono Abdurrahman yang di kutip dari Takeshi Fujishima et. al.: kesulitan belajar “merupakan suatu konsep multidisipliner yang digunakan di lapangan ilmu pendidikan, psikologi, maupun ilmu kedokteran”. Pada tahun 1963 Samuel A. Kirk. Untuk pertama kali menyarankan penyatuan nama-nama gangguan anak seperti disfungsi otak minimal (minimal brain dysfunction), gangguan neurologis (neurological disorders), disleksia (dysleksia), dan afasia perkembangan (developmental aphasia) menjadi satu nama, kesulitan belajar (learning disabilities). Konsep tersebut telah diadopsi secara luas dan pendekatan edukatif terhadap kesulitan belajar telah berkembang secara cepat, terutama di negara-negara yang sudah maju.[15]
Menurut definisi dari kesulitan belajar, pertama kali di kemukakan oleh The United States Office of Education (USOE) pada tahun 1977 yang dikenal dengan law (PL) 94 – 142, yang hampir identik dengan definisi yang dikemukakan oleh The National Advisory on Handicapped Children pada tahun 1967. devinisi tersebut seperti dikutip oleh Hallahan, Kauffman, dan Lloyd seperti berikut:
Kesulitan belajar secara khusus adalah suatu gangguan dalam satu  atau lebih dari proses psikologis dasar yang mecakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk tulisan mendengarkan, berfikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam dalam penglihatan pendengaran, atau motorik, hambatan karena tuna grahita,karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.[16]

Walaupun belum ada definisi yang baku mengenai anak atau siswa berkesulitan belajar di Indonesia, namun dengan mengacu pada definisi yang telah diuraikan sebelumnya, maka menurut Munawir Yusuf anak berkesulitan belajar dapat di definisikan sebagai berikut:
Anak atau siswa berkesulitan belajar adalah anak atau siswa yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus maupun umum, baik disebabkan oleh adanya disfungsi neurologis, proses psikologis dasar maupun sebab-sebab lain sehingga prestasi belajar anak tersebut rendah dan anak tersebut beresiko tinggi tinggal di kelas.[17]
Dari beberapa definisi di atas dapat penulis garis bawahi bahwa arti dari strategi mengatasi kesulitan belajar adalah rencana yang cermat untuk mencapai sasaran khusus dalam menanggulangi kesukaran memperoleh kepandaian (kecakapan), dan upaya dalam merubah tingkah laku atas tanggapan atau efek yang disebabkan oleh pengalaman yang dialami oleh siswa atau peserta didik. Dalam hal ini yang menjadi obyek penelitian adalah siswa beserta pendidik dalam proses belajar mengajar di SDNU Bagorejo II Kecamatan Gumukmas Jember.

D.    Perumusan Masalah

Menurut S. Margono: “Masalah ialah kesenjangan antara sesuatu yang seharusnya ada (das Sollen) dengan kenyataan yang ada (das sein)”.[18]
Sedangkan menurut Nana Sudjana dan Ibrahim: “Masalah merupakan persoalan yang menuntut jawaban dan pemecahan yang paling mendekati kebenaran, setidak-tidaknya ada alasan rasional mengapa jawaban itu yang menjadi pilihan”.[19]
Berangkat dari pendapat di atas maka, permasalahan yang terkait dengan judul dapat dirumuskan sebagaimana berikut:
a.       Bagaimana strategi mengatasi kesulitan belajar siswa yang bersifat umum di Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama’ Bagorejo II?
b.      Bagaimana strategi mengatasi kesulitan belajar siswa yang bersifat khusus di Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama’ Bagorejo II?

E.     Tujuan Penelitian

Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa:”Suatu research khususnya dalam ilmu pengetahuan empirik pada umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan”[20]
Sedangkan menurut S. Margono: “Tujuan penelitian secara umum adalah untuk meningkatkan daya imajinasi mengenai masalah-masalah pendidikan. Kemudian meningkatnya daya nalar untuk mencari jawaban permasalahan itu melalui penelitian”.[21]
Dalam hal ini penulis dalam melakukan penelitian bersendi atas dua tujuan, yaitu:
a.       Untuk mengetahui bagaimana strategi mengatasi kesulitan belajar siswa yang bersifat umum di Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama’ Bagorejo II
b.      Untuk mengetahui bagaimana strategi mengatasi kesulitan belajar siswa yang bersifat khusus di Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama’ Bagorejo II

F.     Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut:
1.      Bagi Penulis
a.       Sebagai langkah awal dalam mengembangkan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi selama ini;
b.      Sebagai modul dalam mengevaluasi kemampuan diri dalam menganalisa perkembangan pendidikan dan dinamikanya serta bagaimana tehnik pemecahannya;
c.       Sebagai wahana belajar memahami gejala psikis anak dan kebutuhan-kebutuhannya pada masa belajar/sekolah dan bagaimana metode dalam pengambilan sikap yang tepat.
2.      Bagi Lembaga
a.       Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi mengenai perkembangan pendidikan serta dinamika yang muncul pasca transformasi sistem pendidikan nasional;
b.      Dengan adanya penelitain ini diharapkan bisa dijadikan informasi tentang sejauh mana kemampuan mahasiswa STAIFAS dalam menganalisa permasalahan yang ada di lembaga pendidikan.
3.      Bagi Masyarakat
a.       Sebagai gambaran pengetahuan khusus akan pentingnya pendidikan anak masa sekolah beserta penanganan kesulitan belajarnya;
b.      Dengan adanya penelitian mengenai strategi mengatasi kesulitan belajar siswa, diharapkan bagi masyarakat, khususnya para orang tua dan tenaga pendidik untuk lebih meningkatkan pemahaman dan  metode pengambilan sikap yang tepat atas gejala psikis anak di masa belajar/sekolah.

G.    Asumsi Keterbatasan

Penelitian ini merupakan bentuk penulisan karya ilmiah dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang senantiasa mengedepankan unsur fenomenologis dan data yang obyektif – empiris, sehingga dalam hal ini sangat ditekankan bagi seorang peneliti untuk terjun di lapangan dan berhadapan secara langsung pada obyek yang diteliti (face to face).
Penulis berasumsi bahwa informan telah banyak memberikan informasi yang cukup obyektif sesuai dengan fakta yang ada dilapangan. Karena hampir semua informan tersebut merupakan subyek yang dianggap berkompeten dan relevan di bidangnya. Memang dalam penelitian kualitatif dibutuhkan waktu yang relatif panjang, hal ini bertujuan untuk mencari data yang valid dan sesuai dengan realitas yang ada di lapangan.
Skripsi ini mengangkat sebuah judul “Strategi Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa di SDNU Bagorejo II” yang berorientasi pada  bentuk dan tekhnis belajar siswa dan kinerja guru dalam mengajar. penelitian ini yang sesungguhnya memerlukan waktu yang cukup panjang dalam  pengumpulan data-data yang valid maka diperlukan berbagai prosedur dan metode seperti: observasi, interviu, dokumenter, dan kepustakaan. Dan kesemuanya itu mengharuskan seorang peneliti untuk terjun secara langsung ke lapangan. Maka dengan waktu yang relatif singkat ini bisa dimungkinkan akan terjadi kekurangakuratan data dan informasi yang dibutuhkan dalam mengkonstuksi sebuah laporan penelitian ini.

H.    Metodologi dan Prosedur Penelitian

Dalam sebuah penelitian metode adalah suatu hal yang sangat penting, karena dengan metode yang baik dan benar akan memungkinkan tercapainya suatu tujuan penelitian.
Di samping itu, juga merupakan sesuatu yang menerangkan cara-cara untuk mengadakan penelitian sebagaimana yang dikemukakan oleh Sutrisno Hadi bahwa: “Metode penelitian adalah suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dan dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah”. [22]
1.      Penentuan Responden
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia responden adalah: penjawab (atas pertanyaan yang di ajukan untuk kepentingan penelitian)[23]. Untuk menentukan responden digunakan tehnik sampel purposif (purposive sampling).
Menurut Sutrisno Hadi: tekhnik purposif sampling adalah pemilihan sekelompok subyek yang didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dianggap mempunyai sangkut paut yang erat dan ciri-ciri atau sifat-sifat tersebut sudah diketahui sebelumnya [24]
2.      Metode Pengumpulan Data
Untuk mempermudah dalam pengumpulan data, maka dalam penelitian ini menggunakan tehnik sebagai berikut:


a.         Interview
Interview adalah suatu instrumen pengumpul data atau informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula.[25]

Menurut Alport sebagaiman dikutip oleh Sutrisno Hadi:
Adalah suatu proses tanya jawab lesan, dalam mana dua orang atau lebih berhadap hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri suaranya, tampaknya merupakan alat pengumpulan informasi yang lagsung tentang beberapa jenis data sosial, baik yang terpendam (latent) maupun yang memanifes.[26]

Berdasarkan pendapat di atas, untuk memperoleh informasi yang tepat dan obyektif, setiap intervieweer harus mampu menciptakan hubungan yang baik dengan interviewee atau responden. Sehingga nantinya akan didapat sebuah informasi yang valid dan reliabel sesuai dengan realitas yang ada di lapangan tanpa adanya manipulasi data (data yang direkayasa) dari interviwee.
Melihat sistematika penelitian yang mengangkat prosedur pembelajaran di kelas, peneliti dituntut untuk terjun ke lapangan. Maka dari itu untuk mengetahui latar belakang obyek yang berisi tentang sejarah serta sistem pembelajaran yang diterapkan dan untuk mengetahui sejauh mana kinerja guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya, diperlukanlah metode interview.
Metode wawancara dipandang sebagai metode yang dapat menghasilkan  data faktual, karena bersumber dari informan yang dianggap mengetahui betul situasi dan kondisi obyek, dan bisa jadi sebagai pelaku sejarah perkembangan obyek atau lembaga yang diteliti. Sehingga nantinya bisa dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan penelitian.
Adapun sumber informasi atau informan yang diwawancarai sebagai berikut:
1)   kepala sekolah
2)   dewan guru
3)   siswa
b.         Observasi
Menurut Sutrisno Hadi “observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomen-fenomen yang diselidiki”[27]
Sedangkan menurut Nana Sudjana dan Ibrahim: “observasi diartikan sebagai alat pengumpul data banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan”[28]
Dilihat dari latar belakang obyek penelitian yang menyangkut  mekanisme pembelajaran di dalam kelas serta kinerja dari pendidik maka dalam penelitian ini yang paling tepat menggunakan jenis observasi langsung – partisipatif. Yakni penelitian yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan memperlihatkan diri atau ikut serta dalam kegiatan yang dilaksanakan di lapangan (object observered)[29]
Tehnik observasi merupakan bagian dari karakteristik penelitian kualitatif yang bertujuan mengangkat masalah-masalah fenomenologis di lapangan. Disini seorang peneliti dituntut untuk mengikuti secara seksama alur dari proses pembelajaran di kelas, peneliti mengamati dan menyelidiki gejala mengenai kesulitan belajar siswa di kelas dan bagaimana tehnik dan strategi seorang guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut.
Berangkat dari sinilah peneliti bisa menemukan data-data riil (empirik) yang kemudian akan didialogkan dengan data-data teoritik, sehingga akan memunculkan sebuah konklusi-konklusi. Dan dari proses sintesis itulah nantinya bisa dijadikan sebuah penemuan ilmiah yang akan digeneralisasikan.
c.       Tekhnik Dokumenter
Menurut S. Margono tekhnik dokumenter adalah: “cara mengumpulkan data melaui peninggalan tertulis seperti arsip-arsip, dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, toeri, dalil atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian”. [30]
Berangkat dari berbagai pandangan teoritik diatas, maka metodologi  pengumpulan data dalam penelitian ini juga memanfaatkan dokumen atau sejenisnya yang berada pada obyek yang terkait dengan penelitian. Dan hal ini dipandang suatu metode yang sangat menunjang dalam menemukan data-data yang valid dan reliabel.

3.      Tehnik Analisa Data
Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dan tekhnik analisa data  reflektif. Karena dengan tekhnik ini bisa didapat data-data dari sumber yang lebih terinci dan terpadu (konprehensif) serta mencapai taraf  kevalidan dan reliabelitas.
Tekhnik ini diperkenalkan pertama kali oleh John Dewey yang merupakan cara modern untuk memperoleh pengetahuan yang tidak lain adalah pengkombinasian jitu dari cara berfikir deduktif dan induktif, atau dengan mendialogkan data teoritik dengan data empirik secara bolak-balik dan kritis.[31]
Adapun pengertian dari cara berfikir deduktif adalah apa saja yang dipandang benar pada semua peristiwa dalam suatu kelas atau jenis, berlaku pula sebagai hal yang benar pada semua peristiwa yang termasuk dalam kelas atau jenis itu. Alat untuk mencapai pengetahuan dengan jalan deduksi disebut silogisme.
Sedangkan cara berfikir induktif bertujuan untuk membentuk membentuk pengetahuan umum yang kemudian akan dijadikan dasar deduksi itu, dijadikan premis mayor daripada silogisme-silogisme. Berfikir deduktif berangkat dari fakta-fakta yang khusus, peristiwa-peristiwa yang konkret, kemudian dari fakta-fakta atau peristiwa yang khusus konkret itu ditarik generalisasi-generalisasi yang mempunyai sifat umum.[32]
Adapun sumber data dalam penelitian ini  antara lain:
a.       Informan, meliputi:
1)   kepala sekolah;
2)   dewan guru, dan
3)   siswa
b.      Dokumenter
c.       Kepustakaan

I.       Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan dalam skripsi ini terdiri atas empat bab, adapun urutannya sebagai berikut:
Bab I berisi  pendahuluan yang merupakan gambaran umum mengenai penelitian yang dilakukan. Membaca bab ini, secara garis besar orang dapat melihat hal-hal yang tercakup dalam skripsi.[33]Dalam bab ini dijabarkan menjadi bebrapa bagian-bagian dengan penjelasannya secara singkat seperti latar belakang yang di dalamnya berisi uraian secara singkat latar belakang melakukan skripsi, selanjutnya alasan pemilihan judul, penegasan judul secara singkat dan berangkat dari hal itu kemudian dibuatlah sebuah perumusan masalah, yang akhirnya memunculkan beberapa tujuan penelitian, manfaat penelitian baik manfaat bagi peneliti, lembaga maupun bagi masyarakat. Diperlukan pula asumsi keterbatasan yang di dalamnya mengemukakan hal-hal yang tidak dapat dilakukan pembuktiannya oleh peneliti. Dan hal ini didorong atas keterbatasan dana, waktu, daerah, hal-hal yang bersangkutan dengan adat, kepercayaan dan lain sebagainya. selanjutnya adalah metode dan prosedur penelitan yang di dalamnya menguraikan secara garis besar metode dan prosedur yang digunakan dalam penelitian. Dan terakhir adalah sistematika pembahasan.
Bab II adalah tinjauan teoritik, pada bab ini dimaksudkan untuk mengetengahkan kerangka acuan teori yang di pergunakan sebagai landasan melakukan penelitian. Tinjauan teoritik ini diketengahkan berdasarkan ringkasan dan tinjauan teori-teori yang erat hubungannya dengan pokok bahasan penelitian ini yang meliputi bagaimana strategi mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa, baik kesulitan belajar yang bersifat umum maupun khusus. Mengingat kerangka teoritik merupakan titik tolak dari varibel, sedangkan dalam skripsi ini hanya terdapat satu variabel, maka kerangka teoritik ini disesuikan dengan kerangka rumusan masalah yakni bagaimana strategi mengatasi kesulitan belajar siswa yang bersifat umum dan strategi mengatasi kesulitan belajar siswa yang bersifat khusus.
Bab III berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan, dalam bab ini mengemukakan secara rinci bukti-bukti yang diperoleh dan merupakan hasil penemuan penelitian, sehingga yang penting dikemukakan adalah: latar belakang obyek penelitian, penyajian data, dan analisa data hasil penelitian.
Bab IV kesimpulan dan saran-saran, merupakan bab terakhir dalam penulisan skripsi dan terdiri dari dua sub bab, yaitu kesimpulan dan saran-saran. Hal ini dimaksudkan agar pembaca dapat memperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai penelitian yang  yang dilakukan. Saran-saran disajikan sebagai masukan atau bahan telaah ulang bagi obyek penelitian serta pihak yang terkait dengan penelitian ini.




















[1] Mahmud Yunus, Tarjamah Al -Qur’anul Karim, Bandung: PT. Al Ma’arif, 1983. hlm 6
[2] Ibid, hlm. 537
[3] M. Quraisy Sihab, Secercah Cahaya Ilahi, Jakarta, Mizan, 2001. hlm. 67
[4] Undang – undang RI No 20, Sisdiknas, Bandung, Fokus Media, 2003. hlm.7
[5] Munawir Yusuf dkk., Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar, Solo: PT. tiga serangkai,  2003. hlm.3
[6]  Roestiyah N.K., Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2001. hlm. 1
[7] Muhibbin Syah,  Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1995. hlm. 174
[8] Nurhadi dan Agus Gerard Senduk, Pembelajaran kontekstual, Jakarta: UNM, 2003, hlm. 4
[9] Nurhan, Kenedi, Pendidikan dan Investasi Masa Depan, 2001(on line) (www.kompas.com.pend29. html., diakses 15 Maret 2002)
[10] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002. hlm. 1092
[11] Ibid, hlm. 74
[12] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op-cit, hlm.1100
[13] Ibid,.hlm. 12
[14] Moelyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulutan Belajar, Jakarta: Rineka Cipta,   2003. hlm. 6
[15] Moelyono Abdurrahman, Op-Cit. hlm. 6
[16] Ibid, hlm. 7
[17] Munawir Yusuf, Op-Cit. Hlm.11
[18] Margono, Metodologi Peneleitian Pendidikan, Semarang: Rineka Cipta, 2003. hlm.54
[19] Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidkan, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2001. hlm. 1
[20] Sutrisno Hadi, Metodologi Research,(Jilid I), Yogyakarta: Andi Offset, 1994. hlm.3
[21] Margono, Op-Cit, hlm. 1
[22] Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Jilid 1)Yyogyakarta: Andi Ofset 1994 hlm.
[23] Dep. P dan K, Op-Cit. Hlm.952
[24] Sutrisno Hadi, Op-Cit, hlm. 82
[25] S. Margono, Op-Cit. hlm. 165
[26] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Op-Cit, 2000. hlm. 63
[27] Ibid, hlm. 136
[28] Nana Sudjana dan Ibrahim, Op-Cit. Hlm. 136
[29] Ibid, hlm. 112
[30] S. Margono, Op-Cit, hlm. 181
[31] Tim Penyusun, Pedoman Karya Tulis Ilmiah, Kencong: STAIFAS, 2005. hlm. 24
[32] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Op-Cit, 2000. hlm.
[33] Tim Penyusun, Pedoman Karya Tulis Ilmiah, Kencong: STAIFAS, 2005. hlm. 32